Mengenal TCO: Kisah di Balik Spare Part Industri yang "Tampak" Hemat

Bayangkan Anda adalah seorang Manajer Produksi yang sedang ditekan untuk melakukan efisiensi biaya produksi (cost reduction).

Suatu hari, Anda dihadapkan pada dua pilihan vendor untuk pengadaan spare part:

  1. Vendor A: Menawarkan harga unit 30% lebih murah.

  2. Vendor B: Harganya lebih tinggi, namun menjanjikan material yang lebih tahan lama dan layanan purna jual.

     

Terpilih Vendor A. Di atas kertas, ia berhasil menghemat anggaran departemen di bulan pertama. team Finance senang..

Namun, drama dimulai di bulan kedua.

Spare part dari Vendor A ternyata lebih cepat rusak. Akibatnya:

  • Downtime Meningkat: Mesin harus sering berhenti untuk penggantian komponen. Setiap menit mesin mati adalah kerugian.

Mari kita lihat ilustrasi komponen biayanya :

Misalnya : 

Vendor A (Ekonomis) 

  • Harga Beli per Unit            Rp 500.000
  • Masa Pakai (Lifespan)        2.000 meter potong 
  • Biaya Downtime (Ganti komponen)    Rp 100.000 / penggantian 
  • Laju Produk Defect         3% 

  Vendor B (Premium)

  • Harga Beli per Unit              Rp 2.000.000
  • Masa Pakai (Lifespan)        20.000 meter potong 
  • Biaya Downtime (Ganti komponen)    Rp 100.000 / penggantian 
  • Laju Produk Defect         0.5% 

Perhitungan Biaya Operasional Per 20.000 Meter

Untuk memotong jarak yang sama (20.000 meter), mari kita lihat perbandingannya:

A. Menggunakan Mata Pisau A (Butuh 10 unit)

  • Total Harga Beli: 10 x Rp 500.000 = Rp 5.000.000
  • Biaya Downtime: 10 kali ganti x Rp 100.000 = Rp 1.000.000
  • Biaya Defect (Estimasi): Misal nilai papan yang rusak = Rp 2.000.000
  • Total Biaya : Rp 8.000.000

B. Menggunakan Mata Pisau B (Cukup 1 unit)

  • Total Harga Beli: 1 x Rp 2.000.000 = Rp 2.000.000
  • Biaya Downtime: 1 kali ganti x Rp 100.000 = Rp 100.000
  • Biaya Defect (Estimasi): Hanya Rp 300.000 (Karena potongan stabil)
  • Total Biaya : Rp 2.400.000

 Sehingga:

  1. Mata Pisau A memiliki biaya per meter potong sebesar Rp 400.
  2. Mata Pisau B memiliki biaya per meter potong sebesar Rp 120.

Meskipun Mata Pisau B harganya 4x lipat lebih mahal di awal, secara operasional ia 70% lebih murah.

Inilah yang Disebut TCO

TCO (Total Cost of Ownership) bukan soal berapa harga beli di awal.
TCO adalah total biaya yang muncul selama barang itu digunakan.

Termasuk:

  • Downtime mesin
  • Risiko keterlambatan pengiriman ke customer
  • Scrap & rework
  • Waktu operator
  • Energi tambahan

"Harga mungkin murah, Tapi biaya hidupnya mahal.😅

 

Salam Sehat...
Cucun W. Widodo (IG : cucunwahyudi1)
https://www.linkedin.com/in/cucun-w-widodo-724157a3/

Tulisan ini berdasarkan pengalaman lapangan saya di industri bisnis manufaktur. 

 

Comments

Popular posts from this blog

Hidden Cost of Quality

COGS: Angka Sunyi yang Diam-Diam Menentukan Untung atau Rugi

Yang Membuat Customer Pergi Bukan Defect