QUALITY adalah KEPUASAN PELANGGAN.

Untuk mencapainya, organisasi harus terlebih dahulu menentukan siapa target konsumennya. Setelah itu, barulah kita mengidentifikasi tingkat kebutuhan atau standar kepuasan pelanggan pada beberapa aspek:


1. Level Quality Product: seberapa bagus, konsisten, atau andal produk yang dianggap “cukup” oleh pelanggan.

2. Level Price: tingkat harga yang masih dianggap wajar dan bernilai oleh pelanggan.

3. Critical Items: hal-hal penting lain yang menjadi perhatian utama pelanggan, misalnya speed, delivery, service, cleanliness, durability, dan lain-lain sesuai industrinya.

Kepuasan pelanggan tercapai ketika organisasi menemukan titik optimal dari ketiga aspek tersebut.
Artinya, bukan sekadar memaksimalkan setiap item, tetapi menyeimbangkannya sesuai ekspektasi pelanggan.

Contoh sederhana:

Jika pelanggan puas pada level:
a. Quality Product = 7/10
b. Price = 8/10
c. Critical Items = 8/10

Maka organisasi tidak perlu memaksakan Quality Product menjadi 10/10.
Karena mendorong satu aspek sampai maksimal biasanya akan mengganggu aspek lain, dan pada akhirnya justru menurunkan total kepuasan pelanggan.

Kecuali jika pelanggan yang menjadi target (misalnya) tidak peduli dengan level price (seberapa mahal pun tidak masalah), artinya level price adalah 0/10, tidak masalah.
Dalam kasus seperti ini, maka Level Quality Product dan Level Critical Items harus 10/10.

Contoh : Produksi Mobil Rolls Royce.

Intinya: kualitas bukan berarti “sempurna”, tetapi “tepat” sesuai apa yang dibutuhkan dan dianggap bernilai oleh pelanggan.

Salam Sehat..
Cucun W. Widodo

IG : @cucunwahyudi1
(saya sering posting proyek & insight efisiensi industri di sana.)

Comments

Popular posts from this blog

Hidden Cost of Quality

COGS: Angka Sunyi yang Diam-Diam Menentukan Untung atau Rugi

Yang Membuat Customer Pergi Bukan Defect