Ketika Proses Lebih Penting dari Harga


Beberapa hari lalu, seorang rekanan dari luar kota menghubungi saya.
Ia berencana melakukan pembelian bernilai cukup besar dari sebuah perusahaan pemasok di Jakarta Utara.

Dari sisi komersial, tidak ada yang bermasalah.
Spesifikasi barang jelas.
Harga pun sudah disepakati.

Namun dalam dunia manufaktur dan B2B, keputusan bisnis jarang berhenti di dua hal itu saja.

Ada satu detail yang patut dicermati: alur transaksinya tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Pemasok meminta pembayaran dilakukan lebih dahulu. Barang akan dikirim melalui ekspedisi, dan invoice dijanjikan terbit setelah pengiriman dilakukan.

Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar sepele.
Namun bagi pelaku manufaktur yang terbiasa berurusan dengan nilai transaksi besar, jadwal produksi, dan komitmen pengiriman, proses adalah bagian dari sistem pengendalian risiko.

Invoice bukan sekadar dokumen administrasi.
Ia adalah penanda komitmen, dasar pencatatan, dan pengaman kedua belah pihak.

Karena itu saya menyarankan satu hal yang sederhana:
ikuti alur yang lazim dan sehat—invoice terbit lebih dulu, baru pembayaran dilakukan.

Rekan saya mencoba membuka kembali diskusi tersebut.
Namun karena tidak ada titik temu, transaksi akhirnya dibatalkan.

Keputusan ini tentu tidak nyaman.
Tetapi dalam praktik bisnis jangka panjang, membatalkan transaksi yang berisiko sering kali jauh lebih bijak daripada memaksakan transaksi yang “terlihat” menguntungkan.

Di industri manufaktur, kita sering terlalu fokus pada kapasitas, harga, dan kecepatan.
Padahal, ketahanan bisnis justru dibangun dari disiplin terhadap proses.

Berani berkata “tidak” bukan tanda kehilangan peluang.
Sering kali, itu adalah tanda bahwa kita sedang menjaga bisnis agar tetap berdiri esok hari.

Salam Sehat,
Cucun W. Widodo

 

Catatan ini saya tulis berdasarkan pengalaman lapangan di industri manufaktur.

Comments

Popular posts from this blog

Hidden Cost of Quality

COGS: Angka Sunyi yang Diam-Diam Menentukan Untung atau Rugi

Yang Membuat Customer Pergi Bukan Defect