Daun Salam

Hari Minggu pagi, bantu istri bikin sarapan di dapur. Buka laci kitchen-set cari kotak bumbu dapur, eh.. malah salfok sama tumpukan daun yang kesasar di kotak bumbu dapur.


Iya, dalam setiap dapur, selalu ada satu daun yang istimewa, daun salam.
Ia bukan sayuran, bukan pula bahan yang dimakan.

Namun ia selalu dicari pertama kali saat memasak, namun justru yang pertama kali disisihkan ketika hidangan tersaji.

Tanpa kehadirannya, aroma sayur lodeh, semur, atau opor terasa hambar, kehilangan jiwanya.

Daun salam hadir bukan untuk menonjolkan diri, tapi untuk memberi rasa, menegaskan harmoni, dan menyempurnakan cita rasa tanpa perlu terlihat.

Nasib daun salam di dapur dan meja makan, ternyata ada padanannya dalam dunia manufaktur.

Ada peran-peran yang mungkin tak terlihat di permukaan, seperti tim QA, maintenance, atau engineering support. Mereka bukan yang tampil di depan, tapi dari tangan merekalah lahir kualitas, efisiensi, dan keandalan proses.

Mereka hadir bukan untuk dipuji, tapi agar sistem berjalan dengan baik.
Mereka bekerja dalam semangat dan ketulusan.

Selaras dengan falsafah Jawa:
“Rame ing gawe, sepi ing pamrih.”
Bersemangat dalam berkarya, tanpa haus akan pujian.

Belajar ketulusan dari selembar daun salam.

Salam Sehat..
Cucun W. Widodo

IG : @cucunwahyudi1
(saya sering posting proyek & insight efisiensi industri di sana.)

Comments

Popular posts from this blog

Hidden Cost of Quality

COGS: Angka Sunyi yang Diam-Diam Menentukan Untung atau Rugi

Yang Membuat Customer Pergi Bukan Defect